Welcome To My Little World
Sunday, May 5, 2013
Monday, September 10, 2012
ARTIKEL SDM
Indria Astuti / 02-Sep-2012
Indria Astuti
Psikolog LPTUI
terimakasih untuk Martha, Dewi dan Rika Serial Catatan Kecil
SERIAL CATATAN KECIL adalah tulisan-tulisan ringan yang diperuntukkan bagi mahasiswa Psikologi dengan bidang minat Psikologi Industri dan Organisasi yang kelak ingin berkarier sebagai konsultan SDM. Dalam SERIAL CATATAN KECIL akan dibahas berbagai isyu di dunia kerja yang bersentuhan dengan peran psikolog, sekedar untuk membuka wawasan, atau mengingatkan kembali hal-hal kecil
yang kadang terlupakan.
Lebih dari 90% karyawan sudah tidak produktif,
tapi kalau di-PHK biayanya akan tinggi sekali.
Apa solusi terbaik?
Bagaimana menanggapinya jika kalimat itu ditujukan pada kita? Berikut rekomendasi dari sekelompok rekan mahasiswa psikologi :
Berdasarkan keterangan di atas, kami menempuh langkah-langkah sebagai berikut :
• Diperlukan perampingan atau pengurangan tenaga kerja dengan sasaran karyawan yang benar-benar tidak produktif lagi, baik dari segi usia (pensiun dini) maupun kemanfaatan. Jumlahnya disesuaikan dengan dana kompensasi yang tersedia.
• Selebihnya, yaitu karyawan yang ketidakproduktifannya merupakan akibat dari kondisi perusahaan, akan mengikuti program efisiensi dari perusahaan berupa :
(a) dirumahkan (untuk sementara) atau
(b) penggiliran waktu/hari kerja
Penetapan opsi (a) atau (b) dibuat berdasarkan pertimbangan pengaruh kegiatan kerja karyawan tersebut terhadap roda perekonomian perusahaan.
Dengan adanya kedua opsi solusi di atas diharapkan ada pemecahan masalah yang sama-sama baik (win-win) bagi kedua belah pihak. Masing-masing pihak kiranya dapat mengembangkan sikap toleransi, tenggang rasa, dan tanggung jawab atas permasalahan yang dihadapi ini. Semoga segala permasalahan eksternal maupun internal yang memicu kondisi ini dapat segera mengalami perbaikan.
Ini konsultan yang baik, selain memberi alternatif solusi, mereka juga mendoakan ...
Well… well…, ini memang masalah yang sulit. Dimana kita mesti berpihak? Psikologi-nya mesti dipakai di sebelah mana? Teman-teman kita di sini mencoba untuk “menyehatkan” kembali perusahaan dengan memanfaatkan berbagai pendekatan. Kemanfaatan PHK dioptimalkan dengan mempertimbangkan dana yang tersedia, dan pengurangan waktu kerja dilakukan sudah dengan memperhitungkan kebutuhan operasi perusahaan. Solusinya rasional. Nah, kata siapa psikolog cuma bermodal hati dan tidak bisa rasional?
Satu hal yang perlu diwaspadai ketika kita menangani masalah yang sifatnya organisational seperti ini adalah interpretasi dari gejala. Sama seperti ketika kita menangani masalah yang sangat psikologis seperti kasus seorang anak Sekolah Dasar yang kata ibunya “mogok sekolah”. Di kampus kita dilatih untuk memverifikasi dulu masalahnya. “Seperti apa sih yang ibu maksud dengan mogok sekolah?” “Apa saja yang dilakukan anak ketika itu?” “Siapa saja yang pernah melihat dan/atau terlibat dalam proses tingkah laku “mogok sekolah” itu?” Dan seterus-seterusnya … Kejelian dalam mengkaji perilaku itulah kontribusi psikologi dalam memverifikasi masalah-masalah kepegawaian seperti ini.
Intinya, kita berusaha memahami gejala dari perspektif banyak pihak. Apa yang dimaksud “tidak produktif”? Bukti-buktinya apa? Apa yang dimaksud dengan produktif? Bagaimana daya hidup perusahaan dengan kondisi seperti ini? Apa saja yang sudah dilakukan? Dan …. siapa yang mengatakan 90% karyawan tidak produktif? Pemilik? Kepala Produksi? Orang SDM? Darimana dia mendapat angka 90%? Apa sih yang sekarang dilakukan dan dirasakan karyawan yang dinilai tidak produktif itu? Dan sebagainya dan sebagainya … Nah, disitulah ribetnya psikologi dalam organizational consulting. Kita mencoba memahami akar masalah.
Psikolog yang gegabah mungkin akan cepat-cepat menawarkan pelatihan. Dengan gagah mengatakan “Diberi Achievement Motivation Training saja Pak! Semua karyawan mesti ikut pelatihan itu!” No, kita mesti uji gejalanya dulu, soalnya isyu ini bukan isyu ringan. Ada pertaruhan biaya yang besar, nasib banyak orang, dan hidup matinya perusahaan di situ.
Dari penelusuran gejala ini kita akan tahu apa yang dimaksud dengan “tidak produktif”. Apakah maksudnya ketinggalan dalam hal keterampilan sehingga hasil produksi tidak lagi mencapai target? Apa karena umurnya sudah tua sehingga kekuatan fisiknya untuk produksi tidak lagi memadai? Atau masalah sikap? Tidak punya belongingness sehingga malas-malasan? Di pekerjaan-pekerjaan mana gejala ini muncul? Bagaimana gaya kepemimpinan di sana? Bagaimana ketersediaan dan jalannya sistem-sistem SDM yang mestinya berfungsi untuk memacu motivasi? Kalau sampai 90% tidak produktif, bagaimana perusahaan masih hidup sampai sekarang? Bagaimana proses menurunnya produktivitas ini? …
Wah, memang tidak sedikit yang mesti dilihat. The point is, ketika seorang psikolog dihadapkan pada masalah yang di dalamnya banyak faktor, maka bekal dari kampus terkait analisis masalah mesti dimanfaatkan. Jangan ngasal, jangan ngawur, jangan sok tau. Hal lainnya adalah pemahaman tentang dinamika produktivitas manusia. Masalah kemampuan, masalah motivasi, kita mesti paham apa dan bagaimana produktivitas itu dari dinamika manusia. Kita juga mesti paham dinamika yang dimunculkan manusia itu pada pekerjaannya, pada perusahaannya.
Misalnya saja masalah usia. Seringkali ketika harus PHK maka dicari yang tua-tua supaya mudah dipensiun dini. Padahal itu sangat tergantung dari bagaimana peran “orang sepuh” itu di pekerjaannya. Mereka yang sudah lama bekerja kadang punya pengalaman yang begitu banyak. Misalnya saja, untuk mengetahui isi sebuah tangki minyak yang buesar-buesar itu, seorang yang sudah puluhan tahun di situ melakukannya cukup dengan memukul tangki dan mendengar bunyinya. Sementara petugas yang masih baru, mesti melakukan berbagai prosedur pengukuran. Jadi, kadang ada orang-orang “tua” yang memang justru perlu dipertahankan untuk menjadi pilar-pilar perusahaan supaya tidak runtuh.
Oleh karena itu kita mesti sangat hati-hati dalam mendeteksi siapa-siapa saja tidak produktif. Dan kebijaksanaan psikolog sangat berkontribusi di sini.
Satu hal yang juga sering menjadi ganjalan ketika kita melakukan organizational consulting adalah masalah culture. Budaya Indonesia. Orang-orang Indonesia punya “rasa” yang seringkali lebih kuat dari “rasional”nya. Mereka suka sulit menerima bahwa merekalah yang ada di kelompok orang kurang produktif itu. Lantas, bukannya menelusuri diri dan membandingkannya dengan role expectation-nya, penjelajahannya malah keluar. … “Si Polan itu lebih gak produktif dibanding saya!” … “Atasan saya gak bisa memimpin!” … “Imbalan dari perusahaan terlalu kecil!” … Coba deh sekali-sekali bikin survey opini karyawan. Orang Indonesia punya repertoar complain yang buanyaaaaaaak sekali. Lucunya, kadang bukan mereka sendiri yang mengalami kasusnya, bahkan kadang mereka juga tidak tahu apakah kejadiannya benar-benar eksis atau tidak. Seperti gosip artis, tidak jelas mana yang fakta dan mana yang cuma kembangan.
Oleh karena itu, kerahkan ilmu psikologi kita dalam memahami masalah, memahami dinamika di balik gejala. Dengan begitu kita bisa membantu perusahaan merumuskan masalah dengan tepat agar solusinya juga tepat. Bukan karena kita berlatar belakang ilmu tentang manusia lantas kita menjadi malaikat pelindung bagi seluruh karyawan, mencari-cari alasan supaya jangan ada yang di-PHK; tapi keilmuan kita itu digunakan untuk mendudukkan masalah dengan tepat. Bukankah perusahaan juga akan rugi besar kalau akar masalah produktivitas ternyata bukan pada karyawan dan PHK malah menjadi solusi yang keliru?
So, catatan belajarnya adalah :
• Organizational consulting itu bukan barang gampang, sungguh! Tapi bukan berarti mesti dihindari. Justru kalau ditekuni, kita akan dapat banyak sekali wawasan. Kalau kita punya sikap rendah hati dan mau belajar, keruwetan organizational consulting akan mematangkan kita. Apabila sebagai asesor yang melakukan asesmen karyawan, posisi kita mungkin seperti di atas angin, seperti “hakim”nya; maka di dalam organizational consulting kita mesti menapak dari anak tangga yang terendah. Tapi di sinilah psikologi kita terpakai habis-habisan. Memahami pihak lain, membaca intensi, menganalisis dinamika. Semua hal yang kita pelajari di bawah heading psikologi sosial, psikologi kepribadian, perkembangan, dan sebagainya tumplek-plek di sini. What a challenge!
• Organisasi bisnis itu sifatnya cenderung dominan rasional. Oleh karena itu, sebagai psikolog untuk perusahaan kita juga mesti memahami ukuran-ukuran rasional mereka. Ukuran ekonomi, ukuran produksi, dan sebagainya. Kita mesti tahu bagaimana berbagai hal di luar yang psikologis bisa melumpuhkan perusahaan. Misalnya sumberdaya finansial yang macet, teknologi yang ketinggalan dari kompetitor. Justru gunakan psikologi untuk menyempurnakan konsep-konsep rasional itu. Bagaimana sih menciptakan kultur cinta inovasi teknologi? Bagaimana sih membuat kultur sadar biaya? Itu tantangan kita.
Organizational consulting bagi psikolog merupakan area yang memuat banyak tantangan karena area ini merupakan area multidisiplin. Kita mesti bisa bekerjasama dengan bidang ilmu lain, memahami “bahasa” mereka dan mensinergikannya dengan apa yang kita miliki. Tapi jangan khawatir, kalau sudah ketemu “klik”nya, bidang ini akan sangat menarik sekali!
TAFAKUR DIRI
zaman kieu mah urang teh kudu loba Tadabur(pelajari)...Tadarus(baraca)...lajeng Tafakuran(berfikir)...sareng tong hilap kedah seueur Tasyakur(bersyukur)...InsyaAllah laku lampah kajaga...hirup tenang,hate jembar,tiis ceuli herang panon...amiiiiiin
Tuesday, August 16, 2011
Friday, May 13, 2011
The Beach
pantai bisa dijadikan salah satu tempat untuk refreshing..banyak hal yang bisa dilakukan disana,kita bisa surfing...swimming...and many more
ALL ABOUT LAYOUT
Layout atau tata letak merupakan satu keputusan yang menentukan efisiensi sebuah operasi dalam jangka panjang. Banyak dampak strategis yang terjadi dari hasil keputusan tentang layout, diantaranya kapasitas, proses, fleksibilitas, biaya, kualitas lingkungan kerja, kontak konsumen dan citra perusahaan. Layout yang efektif membantu perusahaan mencapai sebuah strategi yang menunjang strategi bisnis yang telah ditetapkan diantara diferensiasi, biaya rendah maupun respon cepat.
Layout pabrik disebut juga tata letak atau tata ruang didalam pabrik. Layout pabrik adalah cara penempatan fasilitas-fasilitas produksi guna memperlancar proses produksi yang efektif dan efisien. Fasilitas pabrik dapat berupa mesin-mesin, alat-alat produksi, alat pengangkutan bahan, dan peralatan pengawasan. Perencanaan layout menurut James A Moore adalah rencana dari keseluruhan tata letak fasilitas industri yang didalamnya, termasuk bagaimana personelnya ditempatkan, alat-alat operasi gudang, pemindahan material, dan alat pendukung lain sehingga akan tercipta suatu tujuan yang optimum dengan kegiatan yang ada dengan menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada dalam perusahaan.
Layout pabrik disebut juga tata letak atau tata ruang didalam pabrik. Layout pabrik adalah cara penempatan fasilitas-fasilitas produksi guna memperlancar proses produksi yang efektif dan efisien. Fasilitas pabrik dapat berupa mesin-mesin, alat-alat produksi, alat pengangkutan bahan, dan peralatan pengawasan. Perencanaan layout menurut James A Moore adalah rencana dari keseluruhan tata letak fasilitas industri yang didalamnya, termasuk bagaimana personelnya ditempatkan, alat-alat operasi gudang, pemindahan material, dan alat pendukung lain sehingga akan tercipta suatu tujuan yang optimum dengan kegiatan yang ada dengan menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada dalam perusahaan.
Dalam semua kasus yang terjadi, layout seharusnya mempertimbangkan bagaimana cara mencapai:
1. Pemanfaatan lebih tinggi atas ruang, fasilitas dan tenaga kerja.
2. Perbaikan aliran informasi, barang atau tenaga kerja.
3. Meningkatkan moral kerja dan kondisi keamanan yang lebih baik
4. Meningkatkan interaksi perusahaan dengan konsumen.
5. Peningkatan fleksibilitas.
Dari waktu ke waktu, desain layout perlu dipertimbangkan sebagi sesuatu yang dinamis dan punya fleksibilitas.
B. TIPE LAYOUT
Ada enam pendekatan layout yang akan dibahas dalam topic ini yaitu:
1. Layout dengan posisi tetap, biasanya untuk proyek besar yang memerlukan
tempat luas seperti pembuatan jalan layang maupun gedung.
2. Layout berorientasi pada proses, untuk produksi dengan volume rendah dan
variasi tinggi disebut juga “job shop”
3. Layout perkantoran, bagaiman menempatkan tenaga kerja, peralatan kantor, dan
ruangan kantor yang melancarkan aliran informasi.
4. Ritel layout, penempatan rak dan pemberian tanggapan atas perilaku konsumen.
5. Layout gudang, mengefisienkan ruang penyimpanan dan system penanganan
bahan dengan memperhatrikan kelebihan dan kekurangannya.
6. Layout berorientasi produk, Pemanfaatan tenaga kerja, mesin yang terbaik
dalam produksi yang kontinyu atau berulang.
Agar dapat menetapkan layout yang efektif maka perlu menetapkan beberapa
hal diantaranya adlah:
1. Peralatan penanganan bahan
2. Kapasitas dan persyaratan luas ruangan
3. Lingkungan hidup dan estetika
4. Aliran informasi
5. Biaya perpindahan antar wilayah kerja yang berbeda
LAYOUT POSISI TETAP (FIXED POSITION LAYOUT)
Masalah yang dihadapi dalam layout posisi tetap adalah bagaimana mengatasi
kebutuhan layout proyek yang tidak berpindah atau proyek yang menyita tempat yang
luas (seperti pembuatan jalan laying, gedung). Teknik untuk mengatasi layout posisi tetap tidak dikembangkan dengan baik dan kerumitannya bertambah yang disebabkan oleh tiga factor yaitu:
1. Tempatnya yang terbatas pada semua lokasi produksi.
2. Setiap tahapan berbedapada proses produksi dan kebutuhan bahan sehingga banyak hal yang menjadi penting sejalan dengan perkembangan proyek.
3. Volume bahan yang dibutuhkan sangat dinamis. Karena permasalahan pada layout posisi tetap sulit diselesaikan pada lokasi maka strategi alternative yang ada adalah untuk melengkapi proyek ada hal-hal yang dikerjakan diluar lokasi, misalnya pada proyek pembuatan jalan laying maka pembuatan konstruksi besi dilakukan di luar lokasi setelah jadi tinggal melakukan penanamannya di lokasi proyek.
LAYOUT BERORIENTASI PROSES (PROCESS ORIENTED LAYOUT)
Adalah sebuah layout yang berkaitan dengan proses produksi bervolume rendah dan variasi tinggi. Layout jenis ini marupakan cara tradisional untuk mendukung strategi diferensiasi produk, layout jenis ini adalah yang paling tepat untuk pembuatan produk yang melayani konsumen dengankebutuhan berbeda-beda. Pada proses yang disebut “job shop” setiap produk dalam kelompok kecil melalui urutan operasi yang berbeda, tiap produk atau pesanan yang sedikit diproduksi dengan memindahkannya dari satu depattemen ke deparetemen lain dalam urutan yang tertentu dari tiap produk. Contoh yang tepat adalah pada rumah sakit atu klinik.
Kelebihan utama dari layout ioni adalah adanya fleksibilitas peralatan dan penugasan tenaga kerja. Sehingga dengan demikian apabila terjadi permasalahan pada suatu mesin, pekerjaan tidak perlu berhenti dan dapat dialihkan pada mesin lain atau departemen yang sama. Layout ini juga sangat baik diterapkan pada produksi komponen dalam batch kecil atau disebut “job lot” dan untuk produksi komponen dalam ukuran dan bentuk yang berbeda.
Kelemahan layout ini ada pada peralatan yang biasanya memiliki kegunaan
umum. Waktu produksi jadi lama karena butuh waktu lama untuk berpindah dalam
system karena sulitnya penjadwalan, perubahan penyetelan mesin, keunikan
penanganan bahan. Lagipula peralatan yang mempunyai keguanaan umum
membutuhkan operator yang trampil dan persediaan barang setengah jadi menjadi lebih tinggi karena ketidakseimbangan proses produksi. Pada akhirnya kebutuhan modal akan semakin banyak.
LAYOUT PERKANTORAN (OFFICE LAYOUT)
Hal yang membedakan antar layout kantor dan pabrik adalah pada kepentingan informasi, namun demikian pada beberapa lingkungan kantor , produksi sangat tergantung pada aliran bahan. Cara penyelesaian layout kantor adalah menggunakan analisa digram hubungan (relationship chart) seperti yang dicontohkan di bawah ini. Contoh: Suatu kantor memiliki 9 ruangan yaitu untuk:
1. Direktur
2. Direktur teknologi
3. Ruang para insinyur
4. Sekretaris
5. Pintu masuk kantor
6. Pusat arsio
7. Lemari peralatan
8. Peralatan fotokopi
9 Gudang
Penempatan satu ruang dengan ruang lainnya dilakukan dengan cara memberikan nilai yaitu:
Nilai Kedekatan
A Absolutely necessary (Sangat perlu)
E Especially important (Sangat penting)
I Important (Penting)
O Ordinary Ok (Boleh)
U Unimportant (Tidak penting)
X Not desirable (Tidak perlu)
Pada layout ini ada dua kecenderungan yang perlu diperhatikan yaitu:
1. Teknologi seperti telepon seluler, pager, fax, internet, laptop PDA menyebabkan layout perkantoran menjadi makin fleksibel dengan memindahkan informasi secara elektronik.
2. Virtual company menciptakan kebutuhan dinamis akan ruang dan jasa. Kedua macam kecenderungan ini mengakibatkan kebutuhan karyawan lebih sedikit berada di kantor.
LAYOUT USAHA ECERAN (RITEL LAYOUT)
Merupakan sebuah pendekatan yang berkaitan dengan aliran pengalokasian ruang dan merespon pada perilaku konsumen. Layout ini didasarkan pad aide bahwa penjualan dan keuntungan bervariasi kepada produk yang menarik perhatian konsumen. Sehingga banyak manajer ritel mencoba untuk mempertontonkan produk kepada konsumen sebanyak mungkin. Penelitian membuktikan bahwa semakin besar produk terlihat oleh konsumen maka penjualan akan semakin tinggi dan tingkat pengembalian investasi semakin tinggi. Untuk itu manajer operasional perusahaan ritel dapat melakukan pengubahan pengaturan toko secara keseluruhan atau alokasi tempat bagi beragam produk dalam toko.
Ada lima ide yang dapat dimanfaatkan dalam pengaturan toko yaitu:
1. Tempatkan bara-barang yang sering dibeli di sekitar batas luar toko.
2. Gunakan lokasi yang strategis untuk produk yang menarik dan mempunyai nilai
keuntungan besarseperti kosmetika, asesories.
3. Distribusikan “produk kuat” yaitu yang menjadi alasan utama para pengunjung
berbelanyja, pada kedua sisilorong cdan letakkan secar tewrsebar untuk bisa
dilihat lebih banyak konsumen.
4. Gunakan lokasi ujung loronhg karena memiliki tingkat pertontonan yang tinggi
5. Sampaikan misi totko dengan memilih posisi yang menjadi penghentian pertama
bagi konsumen.
Tujuan utama dari layout ini adalah “memaksimalkan keuntungan luas lantai per kaki persegi”. Disamping itu ada juga konsep yang masih diperdebatkan yaitu Biaya Slotting (Slotting Fees) yaitu biaya yang dibayar produsen untuk menempatkan produk mereka pada rak di rantai ritel atau supermarket. Disamping itu ada juga pertimbangan-pertimbangan lain yang disebut dengan “servicescapes” yang terdiri dari tiga elemen yaitu:
- Kondisi yang berkenaan dengan lingkungan
- Tata letak yang luas dan mempunyai fungsi
- Tanda-tanda, simbul dan patung
LAYOUT GUDANG (WAREHOUSE LAYOUT)
Merupakan sebuah disain yang mencoba meminimalkan biaya total dengan mencapai paduan yang terbaik antara luas ruang dan penanganan bahan. Manajemen bertugas mamaksimalkan tiap unit luas gudang yaitu mamanfaatkan volume penuhnya sambil mempertahankan biaya penanganan bahan yang rendah. Yang mana biaya penanganan bahan adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan transportasi bahng yang masuk, penyimpanan dan bahan keluar meliputi; peralatan, tenaga kerja, bahn, biaya pengawasan, asuransi, penyusutan. Layout gudang yang efektif meminimalkan kerusakan bahan di gudang.
Manajemen gudang yang modern marupakan suatu prosedur yang otromatis yang menggunakan ASRS (Automated Stirage Retrieval System). Ada tiga konsep yang dikenal dalam layout gudang yaitu:
1. Cross Docking
Adalah cara menghindari penempatan bahan atau pasokan dalanm gudang dengan cara memproses secara langsung disaat diterima. Hal ini dilakukan untuk menghindari aktivitas penerimaan secara formal, penghitungan stock/penyimpanan dan pemilihan pesanan sehingga terjadi penghematan biaya.
Cross Docking yang baik membutuhkan :
- penjadwalan yang ketat.
- Pengiriman yang diterima memiliki identifikasi produk yang akurat
dengan kode garis.
2. Random Stocking
Digunakan di gudang untuk menempatkan persediaan dimana terdapat lokasi yang terbuka. Teknik ini berarti bahwa ruangan tidak perelu dikhususkan untuk barang-barang tertentu dan fasilitas dapat dimanfaatkan dengan lebih baik. Sistim ini jika terkomputerisasi maka akan meliputi tugas-tugas:
- Membuat daftar lokasi yang “terbuka”
- Membuat catatan persediaan sekarang secara akurat dan juaga lokasinya.
- Mengurutkan barang-barang dalam urutan tertentu untuk meminimalkan waktu perjalanan yang dibutuhkan untuk menjemput pesanan.
- Memadukan pesanan untuk mengurangi waktu penjemputan
- Menugaskan barang atau sekumpilan barang tertentu pada wilayah gudang yang tertentu sehingga jarak tempuh total dalam gudang dapat dimimalkan.
3. Customizing
Merupakan penggunaan gudang untuk menambahkan nilai produk melalui modifikasi, perbaikan, pelabelan dan pengepakan.Cara ini biasanya berguna untuk menghasilkan keunggulan bersaing dal;am pasar dimana terdapat perubahan produk yang sangat cepat. Cara ini sudah banyak dilakukan oleh perusahaan dengan misalkan penyediaan label pada usaha eceran sehingga barang dapat langsung dipajang.
LAYOUT BERORIENTASI PRODUK (PRODUCT ORIENTASI LAYOUT)
Layout ini disusun di sekeliling produk atau keluarga produk yang sama yang memiliki volume tinggi dan variasi rendah. Produksi yang berulang dan kontinyu. Asumsi yang digunakan adalah:
1. Volume yang ada mencukupi untuk pemanfaatan peralatan yang tinggi.
2. Permintaan produk stabil.
3. Produk distandarisasi atau mendekati fase siklus hidupnya.
4. Pasokan bahan baku dan komponen mencukupi dengan kualitas standar.
Dalam layout ini ada dua jenis yaitu:
1. Lini pabrikasi (fabrication line) membuat komponen seperti ban mobil. Lini ini dipacu oleh mesin dan membutuhkan perubahan mekanis dan rekayasa untuk membuat keseimbangan.
2. Lini perakitan (assembly line) meletakkan komponen yang dipabrikasi secara bersamaan pada sekumpulan stasiun kerja. Lini ini dipacu oleh tugas yang diberikan kepada tanaga kerja atu pada stasiun kerja
Keuntungan layout ini adalah:
1. Biaya variabel per unit rendah yang biasanya dikaitkan dengan produk yang terstandardisasi dan bervolume tinggi.
2. Biaya penanganan bahan rendah.
3. Mengurangi persediaan barang setengah jadi.
4. Proses pelatihan dan pengawasan yang lebih mudah
5. Hasil output yang lebih cepat.
Kelemahan layout ini adalah
1. Butuh volume tinggi karena modalnyaa besar.
2. Jika ada penghentian pada satu bagian akan berakibat pada seluruh operasi.
3. Fleksibilitas yang ada kurang saat menangani beragam produk atau tingkat produksi berbeda.
STRATEGI LAYOUT
Metapkan suatu layaout yang akan digunakan oleh suatu perusahaan harus juga mempertimbangkan berbagai keputusan operasional yang telah dibuat sebelumnya. Keputusan operasional yang berkaitadengan layout dintaranya adalah desain produk, lokasi, proses maupun kapasitas perusahaan. Strategi layout secara umum bertujuan agar perusahaan dapat melakukan pengaturan tenaga kerja, ruang yang tersedia, peralatan atau fasilitas yang digunakan sehingga segala macam aliran yang ada diperusahaan baik berupa informasi maupun bahan dapat berjalan secara efektif dan fisien.
Layout yang efektif akan dapat menunjang pelaksanaan strategi bisnis yang telah ditetapkan perusahaan apakah diferensiasi, low cost atau respon yang cepat. Modul ini akan membahas mengenai strategi layout yang akan dibagi menjadi 2 (dua) topik, yang terdiria atas:
1) Topik kesebelas akan membahas tentang tipe strategi layout.
2) Topik keduabelas akan membahas tentang konsep perhitungan untuk beberapa strategi layout
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Lokasi Pabrik
1. Lingkungan masyarakat
2. Sumber alam
3. Tenaga kerja
4. Transportasi
5. Pembangkit tenaga listrik
6. Tanah untuk ekspansi
Metode Pemilihan Lokasi Pabrik
1. Metode kuantitatif : adalah menilai secara kuantitatif baik buruknya suatu daerah untuk pabrik sehubungan dengan faktor-faktor yang terdapat didaerah tersebut, sehingga perusahaan dapat membandingkan keadaan daerah satu dengan daerah lain.
2. Metode kualitatif : adalah konsep biaya tetap dan biaya variabel dari lokasi yang berbeda dapat menciptakan hubungan antara biaya dan volume produksi yang berlaku bagi masing-masing lokasi.
3. Metode transportasi : adalah suatu alat untuk memecahkan masalah yang menyangkut pengiriman barang, dari suatu tempat ke tempat yang lain.
Tujuan transportasi adalah dari mana dan berapa jumlah yang harus didistribusikan pada masing-masing lokasi, sehingga biaya distribusi minimum.
Perencanaan Layout adalah perencanaan dari kombinasi yang optimal antara fasilitas produksi serta semua peralatan dan fasilitas terlaksananya proses produksi.
Tujuan Pelaksanaan Layout adalah untuk mendapatkan kombinasi yang paling optimal antara fasilitas-fasiltas produksi.
Layout Diperlukan Dalam Perusahaan Karena :
1. Adanya perubahan desain produk
2. Adanya produk baru
3. adanya perubahan volume permintaan
4. Lingkungan kerja yang tidak memuaskan
5. Fasilitas produksi yang ketinggalan jaman
6. Penghematan biaya
7. Adanya kecelakaan dalam proses produksi
8. Pemindahan lokasi pasar/konsentrasi terhadap pasar
Kriteria Penyusunan Layout :
1. Jarak angkut yang minimum
2. Penggunaan ruang yang efektif
3. Keselamatan barang-barang yang diangkut
4. Fleksibel
5. Kemungkinan ekspansi masa depan
6. Biaya diusahakan serendah mungkin
7. Aliran material yang baik
Langkah-Langkah Perencanaan Layout :
1. Melihat perencanaan produk yang menunjukkan fungsi-fungsi dimiliki produksi tersebut
2. Menentukan perlengkapan yang akan dibutuhkan dan memilih mesin-mesinnya.
3. Analisa dan keseimbangan urutan pekerjaan, flow casting dan penyusunan diagram blok daripada layout.
Klasifikasi Perencanaan Layout
1. Adanya perubahan-perubahan kecil dari layout yang ada
2. Adanya perubahan-perubahan fasilitas produksi yang baru
3. Merubah susunan layout karena adanya perubahan fasilitas produksi
4. Pembangunan pabrik baru
Macam – Macam Layout
1. Produk layout
adalah berurutan sesuai dengan jalannya proses produksi dari bahan mentah sampai menjadi barang jadi.
2. Proses layout
Adalah kesamaan proses atau kesamaan pekerjaan yang mempunyai fungsi yang sama dikelompokkan dan
ditempatkan dalam ruang tertentu.
3. Fixed position (layout kelompok)
Adalah susunan komponen untuk proses produksi diletakkan didekat tempat proses produksi dilaksanakan.
4. Material handling
Adalah ilmu untuk memindahkan, membungkus dan menyimpan bahan-bahan dalam segala bentuk.
Prinsip dasar penyusunan layout :
1. Integrasi secara total terhadap faktor-faktor produksi, tata letak fasilitas pabrik dilakukan secara terintegrasi dari semua faktor yang mempengaruhi proses produksi menjadi satu organisasi yang besar.
2. Jarak pemindahan bahan paling minimum. Waktu pemindahan bahan dari satu proses ke proses yang lain dalam industri dapat dihemat dengan cara mengurangi jarak perpindahan.
3. Memperlancar aliran kerja, diupayakan untuk menghindari gerakan balik (back tracking), gerakan memotong (cross movement), dan gerak macet (congestion), dengan kata lain material diusahakan bergerak terus tanpa adanya interupsi oleh gangguan jadwal kerja.
4. Kepuasan dan keselamatan kerja, sehingga memberikan suasana kerja yang menyenangkan.
5. Fleksibilitas, yaitu dapat mengantisipasi perubahan teknologi, komunikasi, kebutuhan konsumen. Untuk menjaga fleksibilitas, diadakan penyesuaian kembali (relayout), yaitu suatu perubahan kecil dalam suatu penataan ruangan, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya perubahan desain produk yang memungkinkan berubahnya layout secara total. Yang perlu diperhatikan adalah relayout maupun layout jika ada perubahan sedikit saja tidak akan mengganggu proses produksi.
1. Integrasi secara total terhadap faktor-faktor produksi, tata letak fasilitas pabrik dilakukan secara terintegrasi dari semua faktor yang mempengaruhi proses produksi menjadi satu organisasi yang besar.
2. Jarak pemindahan bahan paling minimum. Waktu pemindahan bahan dari satu proses ke proses yang lain dalam industri dapat dihemat dengan cara mengurangi jarak perpindahan.
3. Memperlancar aliran kerja, diupayakan untuk menghindari gerakan balik (back tracking), gerakan memotong (cross movement), dan gerak macet (congestion), dengan kata lain material diusahakan bergerak terus tanpa adanya interupsi oleh gangguan jadwal kerja.
4. Kepuasan dan keselamatan kerja, sehingga memberikan suasana kerja yang menyenangkan.
5. Fleksibilitas, yaitu dapat mengantisipasi perubahan teknologi, komunikasi, kebutuhan konsumen. Untuk menjaga fleksibilitas, diadakan penyesuaian kembali (relayout), yaitu suatu perubahan kecil dalam suatu penataan ruangan, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya perubahan desain produk yang memungkinkan berubahnya layout secara total. Yang perlu diperhatikan adalah relayout maupun layout jika ada perubahan sedikit saja tidak akan mengganggu proses produksi.
Sasaran layout suatu pabrik adalah meminimumkan biaya dan meningkatkan efisiensi dalam pengaturan segala fasilitas produksi dan area kerja, sehingga proses produksi dapat berjalan lancar. Fasilitas produksi disini dapat berupa Mesin, alat-alat produksi, alat pengangkutan bahan, dan alat pengawasan. Efisiensi ini dapat dicapai dengan menekan biaya produksi dan transportasi didalam pabrik.
Fasilitas produksi yang dominan di dalam pabrik adalah mesin dan peralatan. Untuk melakukan pembelian mesin atau peralatan, harus dipertimbangkan secara ekonomis dan disesuaikan dengan jumlah produksi barang atau jasa yang dihasilkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan mesin atau peralatan adalah :
1. Kapasitas mesin
2. Kecocokan (compatibility)
3. Tersedianya peralatan pelengkap yang diperlukan
4. Keterandalan dan purna jual
5. Kemudahan persiapan dan instalasi, penggunaan dan pemeliharaan
6. Keamanan
7. Penyerahan
8. Keadaan pengembangan
9. Pengaruh terhadap organisasi yang ada.
1. Kapasitas mesin
2. Kecocokan (compatibility)
3. Tersedianya peralatan pelengkap yang diperlukan
4. Keterandalan dan purna jual
5. Kemudahan persiapan dan instalasi, penggunaan dan pemeliharaan
6. Keamanan
7. Penyerahan
8. Keadaan pengembangan
9. Pengaruh terhadap organisasi yang ada.
Faktor-faktor tersebut menjadi bahan pertimbangan manajer operasi sehingga tidak terjadi pembelian mesin yang kelebihan atau kekurangan beban dan terlalu mahal dibanding dengan tingkat produksi yang dihasilkan. Selain faktor pemilihan mesin, juga harus dipertimbangkan penentuan jumlah mesin karena terkait dengan jumlah sumber daya manusia yang dimiliki, khususnya operasi mesin, pertimbangan lain didasarkan pada aspek ternis dan ekonomis.
Dalam pembelian jumlah mesin, dipertimbangkan :
1. Jumlah produksi yang direncanakan
2. Perkiraan jumlah produk cacat pada setiap proses produksi
3. Waktu kerja standard setiap unit produk dan jam operasi mesin.
1. Jumlah produksi yang direncanakan
2. Perkiraan jumlah produk cacat pada setiap proses produksi
3. Waktu kerja standard setiap unit produk dan jam operasi mesin.
Jenis mesin dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1. Mesin yang bersifat umum/serbaguna, mesin-mesin ini dapat digunakan untuk mengerjakan pelbagai macam pekerjaan. Misalnya mesin gergaji pada perusahaan pemotong kayu.
2. Mesin yang bersifat khusus, yaitu mesin-mesin yang penggunaannya hanya satu macam pekerjaan saja. Misalnya mesin pembuat gula pasir.
1. Mesin yang bersifat umum/serbaguna, mesin-mesin ini dapat digunakan untuk mengerjakan pelbagai macam pekerjaan. Misalnya mesin gergaji pada perusahaan pemotong kayu.
2. Mesin yang bersifat khusus, yaitu mesin-mesin yang penggunaannya hanya satu macam pekerjaan saja. Misalnya mesin pembuat gula pasir.
Pada prakteknya sering kita jumpai perusahaan mengkombinasikan kedua jenis mesin tersebut, hal ini bertujuan agar dapat dicapai efisiensi dan efektifitas penggunaan mesin. Dasar pengaturan layout atau cara pengaturan rencana tata letak pabrik adalah :
1. Lay-out proses
Layout proses atau layout fungsional adalah penyusunan layout dimana alat yang sejenis atau yang mempunyai fungsi sama ditempatkan dalam bagian yang sama. Model ini cocok untuk discret production dan bila proses produksi tidak baku, yaitu jika perusahaan membuat berbagai jenis produk yang berbeda atau suatu produk dasar yang diproduksi dalam berbagai macam variasi. Atas dasar proses, terlebih dahulu ditentukan jenis produk, tipe manufacturing, dan karakter peralatan produksi. Mesin-mesin dan peralatan yang mempunyai karakter serupa dikelompokkan menjadi satu, contoh pemakaian layout ini adalah untuk pergudangan, rumah sakit, universitas, dan perkantoran.
Keuntungan dari layout proses adalah :
• Memungkinkan utilitas mesin yang tinggi
• Memungkinkan penggunaan mesin-mesin yang multiguna sehingga dapat dengan cepat mengikuti perubahan jenis produksi.
• Memperkecil terhentinya produksi yang diakibatkan oleh kerusakan mesin
• Sangat fleksibel dalam mengalokasikan personel dan peralatan
• Investasi yang rendah karena dapat mengurangi duplikasi peralatan
• Memungkinkan spesialisasi supervise
1. Lay-out proses
Layout proses atau layout fungsional adalah penyusunan layout dimana alat yang sejenis atau yang mempunyai fungsi sama ditempatkan dalam bagian yang sama. Model ini cocok untuk discret production dan bila proses produksi tidak baku, yaitu jika perusahaan membuat berbagai jenis produk yang berbeda atau suatu produk dasar yang diproduksi dalam berbagai macam variasi. Atas dasar proses, terlebih dahulu ditentukan jenis produk, tipe manufacturing, dan karakter peralatan produksi. Mesin-mesin dan peralatan yang mempunyai karakter serupa dikelompokkan menjadi satu, contoh pemakaian layout ini adalah untuk pergudangan, rumah sakit, universitas, dan perkantoran.
Keuntungan dari layout proses adalah :
• Memungkinkan utilitas mesin yang tinggi
• Memungkinkan penggunaan mesin-mesin yang multiguna sehingga dapat dengan cepat mengikuti perubahan jenis produksi.
• Memperkecil terhentinya produksi yang diakibatkan oleh kerusakan mesin
• Sangat fleksibel dalam mengalokasikan personel dan peralatan
• Investasi yang rendah karena dapat mengurangi duplikasi peralatan
• Memungkinkan spesialisasi supervise
Kelemahan dari layout proses adalah :
• Meningkatnya kebutuhan material handling karena aliran proses yang beragam dan tidak dapat digunakannya ban berjalan
• Pengawasan produksi yang lebih sulit
• Meningkatnya persediaan barang dalam proses
• Total waktu produksi per unit yang lebih lama
• Memerlukan skill yang lebih tinggi
• Pekerjaan routing, penjadwalan dan akunting biaya yang lebih sulit, Karena setiap ada order baru harus dilakukan perencanaan/perhitungan kembali
• Meningkatnya kebutuhan material handling karena aliran proses yang beragam dan tidak dapat digunakannya ban berjalan
• Pengawasan produksi yang lebih sulit
• Meningkatnya persediaan barang dalam proses
• Total waktu produksi per unit yang lebih lama
• Memerlukan skill yang lebih tinggi
• Pekerjaan routing, penjadwalan dan akunting biaya yang lebih sulit, Karena setiap ada order baru harus dilakukan perencanaan/perhitungan kembali
2. Lay-out produk
Layout produk dipilih apabila proses produksinya telah distandarisasikan dan berproduksi dalam jumlah besar. Setiap produk akan melalui tahapan operasi yang sama sejak dari awal sampai akhir. Penyusunan bagian diatur sedemikian rupa sehingga dari bagian tersebut dapat dihasilkan suatu jenis produk tertentu.. Atas dasar produk, terlebih dahulu ditentukan jenis pekerjaan yang harus dilakukan pada produk yang akan dihasilkan.
Pengaturan tata letak fasilitas pabrik seperti mesin, tidak memandang tipenya dan penempatannya sesuai dengan urutan dari satu proses ke proses yang lain. Contoh : tempat cuci mobil otomatis, kafetaria, atau perakitan mobil
Keuntungan dari model layout produk adalah sebagai berikut :
• Aliran material yang simple dan langsung
• Persediaan barang dalam proses yang rendah
• Total waktu produksi per unit yang rendah
• Tidak memerlukan skill tenaga kerja yang tinggi
• Kebutuhan material handling yang rendah
• Dapat menggunakan mesin khusus atau otomatis
• Dapat menggunakan ban berjalan karena aliran material sudah tertentu
• Kebutuhan material dapat diperkirakan dan dijadwalkan dengan lebih mudah
Keuntungan dari model layout produk adalah sebagai berikut :
• Aliran material yang simple dan langsung
• Persediaan barang dalam proses yang rendah
• Total waktu produksi per unit yang rendah
• Tidak memerlukan skill tenaga kerja yang tinggi
• Kebutuhan material handling yang rendah
• Dapat menggunakan mesin khusus atau otomatis
• Dapat menggunakan ban berjalan karena aliran material sudah tertentu
• Kebutuhan material dapat diperkirakan dan dijadwalkan dengan lebih mudah
Kelemahan dari model layout produk adalah :
• Kerusakan pada sebuah mesin dapat menghentikan produksi
• Perubahan desain produk dapat mengakibatkan tidak efektifnya layout yang bersangkutan
• Apabila terdapat bottle neck dapat mempengaruhi proses keseluruhan
• Biasanya memerlukan investasi mesin/peralatan yang besar
• Karena sifat pekerjaannya yang monoton dapat mengakibatkan kebosanan
• Kerusakan pada sebuah mesin dapat menghentikan produksi
• Perubahan desain produk dapat mengakibatkan tidak efektifnya layout yang bersangkutan
• Apabila terdapat bottle neck dapat mempengaruhi proses keseluruhan
• Biasanya memerlukan investasi mesin/peralatan yang besar
• Karena sifat pekerjaannya yang monoton dapat mengakibatkan kebosanan
Dengan adanya sasaran yang akan dicapai dari lay-out suatu pabrik maka dengan sendirinya kita dapat memperoleh manfaat dari adanya perencanaan lay-out pabrik. Manfaat layout pabrik diantaranya adalah sebagai berikut ::
1. Meningkatkan jumlah produksi, sehingga proses produksi berjalan lancar, yang berimpas pada output yang besar, biaya dan jam tenaga kerja serta mesin minimum.
2. Mengurangi waktu tunggu, artinya terjadi keseimbangan beban dan waktu antara mesin yang satu dengan mesil lainnya, selain itu juga dapat mengurangi penumpukan bahan dalam proses, dan waktu tunggu.
3. Mengurangi proses pemindahan bahan dan meminimalkan jarak antara proses yang satu dengan yang berikutnya.
4. Hemat ruang, karena tidak terjadi penumpukan material dalam proses, dan jarak antara masing-masing mesin berlebihan sehingga akan menambah luas bangunan yang tidak dibutuhkan.
5. Mempersingkat waktu proses, jarak antar mesin pendek atau antara operasi yang satu dengan yang lain.
6. Efisiensi penggunaan fasilitas, pendayagunaan elemen produksi, yaitu tenaga kerja, mesin, dan peralatan.
7. Meningkatkan kepuasan dan keselamatan kerja, sehingga menciptakan suasana lingkungan kerja yang aman, nyaman, tertib, dan rapi, mempermudah supervisi, mempermudah perbaikan dan penggantian fasilitas produksi, meningkatkan kinerja menjadi lebih baik, dan pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas.
8. Mengurangi kesimpangsiuran yang disebabkan oleh material menunggu, adanya gerak yang tidak perlu, dan banyaknya perpotongan aliran dalam proses produksi (intersection).
1. Meningkatkan jumlah produksi, sehingga proses produksi berjalan lancar, yang berimpas pada output yang besar, biaya dan jam tenaga kerja serta mesin minimum.
2. Mengurangi waktu tunggu, artinya terjadi keseimbangan beban dan waktu antara mesin yang satu dengan mesil lainnya, selain itu juga dapat mengurangi penumpukan bahan dalam proses, dan waktu tunggu.
3. Mengurangi proses pemindahan bahan dan meminimalkan jarak antara proses yang satu dengan yang berikutnya.
4. Hemat ruang, karena tidak terjadi penumpukan material dalam proses, dan jarak antara masing-masing mesin berlebihan sehingga akan menambah luas bangunan yang tidak dibutuhkan.
5. Mempersingkat waktu proses, jarak antar mesin pendek atau antara operasi yang satu dengan yang lain.
6. Efisiensi penggunaan fasilitas, pendayagunaan elemen produksi, yaitu tenaga kerja, mesin, dan peralatan.
7. Meningkatkan kepuasan dan keselamatan kerja, sehingga menciptakan suasana lingkungan kerja yang aman, nyaman, tertib, dan rapi, mempermudah supervisi, mempermudah perbaikan dan penggantian fasilitas produksi, meningkatkan kinerja menjadi lebih baik, dan pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas.
8. Mengurangi kesimpangsiuran yang disebabkan oleh material menunggu, adanya gerak yang tidak perlu, dan banyaknya perpotongan aliran dalam proses produksi (intersection).
Subscribe to:
Posts (Atom)
